Ritual Upacara adat Saparan Bekakak adalah sebuah ritual budaya Jawa asli dari Yogyakarta yang
diselenggarakan tiap bulan Sapar dalam penanggalan Jawa atau safar
dalam kalender islam. Siang itu seusai shalat Jumat, ratusan warga
berkumpul untuk bersiap menyaksikan ritual tahunan ini yang berlangsung
dari Balai Desa Ambarketawang, dan diakhiri di pasanggrahan Gunung
Gamping, Sleman, Yogyakarta, ...
dengan menyembelih sepasang pengantin (Bekakak) yang terbuat dari beras ketan.
Menurut mitos Jawa kuno, dahulu bulan Sapar dianggap sebagai bulan sial
dimana seringkali terjadi sejumlah musibah atau kecelakaan. Kepercayaan
ini mendorong masyarakat Jawa untuk tidak menyelenggarakan berbagai
hajatan seperti pernikahan terutama pada hari rabu terakhir di bulan
ini.
Hingga saat ini, masyarakat Jawa di sekitaran kawasan
Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta, dimana lokasi ini merupakan
tempat didirikannya Kraton Yogyakarta untuk pertama kalinya, masih
melaksanakan ritual Saparan dengan maksut sebagai wujud doa Pada Yang
Maha Kuasa agar dihindarkan dari mara bahaya. Otomatis, ritual adat ini
memiliki latar belakang sejarah yang berasal dari Kraton Ngayogyakarta
Hadiningrat.
Dikisahkan bahwa ada sepasang suami-istri yang
merupakan abdi dhalem setia Kraton pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono
I (Pangeran Mangkubumi) bernama Kyai Wirasuta dan Nyi Wirasuta. Sebagai
Kanjeng Sinuhun yang pertama, Sultan Hamengku Buwono I bermaksud
emndirikan sebuah istana (Kraton) sebagai kediaman kerajaannya. Sembari
menunggu pembangunan selesai, Sultan memilih beristirahat sejenak di
sebuah pasanggrahan yang terletak di Desa Ambarketawang yang pada waktu
itu sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian dengan menambang
batu gamping.
Setelah selesainya Kraton dibangun, Sultan
beserta para abdi dhalem hendak kembali ke Kraton namun tidak dengan
kedua abdi dhalem tadi. Kyai dan Nyi Wirasuta memilih untuk menetap di
pasanggrahan bekas tempat singgah Sultan pertama tersebut. Malapetaka
tak diduga terjadi, pada Jumat Kliwon bulan Sapar, Gunung Gamping
runtuh dan menewaskan kedua abdi dhalem tersebut. Anehnya, jasad mereka
tidak ditemukan hingga sekarang.
Seiring berjalannya waktu,
masyarakat Ambarketawang, Gamping diresahkan dengan musibah serupa yang
terjadi tiap bulan Sapar. Masyarakat setempat meyakini arwah Kyai dan
Nyi Wirasuta masih menempati Gunung Gamping. Mengetahui keresahan
tersebut, Sri Sultan bertitah pada masyarkat Ambarketawang agar tiap
bulan Sapar mengadakan upacara selamatan dengan menyembelih sepasang
pengantin (Bekakak) yang terbuat dari campuran beras ketan yang
dimaksudkan untuk menggantikan Kyai dan Nyi Wirasuta serta warga lain
yang tertimpa musibah longsornya Gunung Gamping agar tidak terjadi
bencana serupa di wilayah ini.
Ketua Panitia Saparan Bekakak,
Frans Haryono mengatakan bahwa Perayaan kirab budaya tak sebatas
seremonial tahunan, di balik setiap perayaan ada edukasi kultural yang
selalu ingin digelorakan. “Intinya tradisi Saparan Bekakak adalah
peringatan terhadap kesetiaan seorang abdi dhalem pada rajanya,” ujar
beliau sesaat setelah selesainya upacara Bekakak dilaksanakan.
Ritual adat ini berlangsung terus menerus hingga sekarang dengan tidak
mengurangi nilai dan makna dari tiap prosesinya. Ritual Saparan Bekakak
yang dahulu sebagai wujud tolak bala masyarakat Jawa saat ini telah
terintegrasi pada mitos sejarah dan legenda lokal yang tetap diuri-uri
secara konsisten oleh masyarakat setempat lebih dari sebuah ritual
budaya, namun sebagai komoditi bagi daya tarik wisata lokal maupun
manca Negara. Mungkin kalau ada yang mau video saparan bekakak bisa minta copy ke saya, beruntung saya pernah mengabadikan ritual upacara saparan. Atau mungkin ada yang mau lihat saparan bekakak secara langsung, bisa sama saya, alhamdulillah kebetulan saya asli gamping dan kebetulan juga di ambarketawang.


No comments:
Post a Comment
coment nya yaaa